Senin, 02 Juli 2012

PENYESUAIAN DIRI


PENYESUAIAN DIRI DAN PERMASALAHANNYA

A.    Pengertian penyesuaian diri
Penyesuain diri dalam bahsa aslinya dikenal dengan istilah Adjustment atau Personal Adjustment. Schneiders (1984), berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat di tinjau dari tiga sudut pandang, yaitu :
1.      Penyesuaian diri sebagai adaptasi (Adaptation)
Dilihat dari perkembangannya, penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation). Padahal adaptasi pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis atau biologis. Penyesuaian diri juga diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik (self-maintenance atau survival). Oleh sebab itu, jika penyesuaian diri hanya diartikan sama dengan usaha untuk mempertahankan diri maka hanya selaras dengan keadaan fisik saja bukan penyesuaian dalam arti psikologis.
2.      Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (Confornity)
Ada juga penyesuaian diri yang diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas yang mencakup norma-norma. Penyesuaian diri sebagai uasaha konformitas mengisyaratkan bahwa individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diridari penyimpangan perilaku baik secara moral, sosial, maupun emosional.
3.      Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (Mastery)
Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (Mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Prinsip-prinsip penting mengenai hakikat penyesuaian diri, yaitu sebagai berikut :
a.       Setiap Individu memiliki kualitas penyesuaian diri yang berbeda.
b.      Penyesuaian diri sebagian besar ditentukan oleh kapasitas internal.
c.       Penyesuaian diri juga ditentukan oleh faktor internal dalam hubungannya dengan lingkungan individu yang bersangkutan.

B.     Penyesuaian diri yang baik
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (Well Adjusted Person) jika mampu melakukan respon-respon yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Dikatakan efisien apabila mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat apabila respon-respon yang dilakukannya dengan hakikat individu, lembaga atau kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dan ciptaanNya.

C.    Proses penyesuaian diri
Proses penyesuaian diri menurut Schneiders (1984), melibatkan tiga unsur yang akan mewarnai kualitas proses penyesuaian diri individu yaitu :
1.      Motivasi dan Proses Penyesuaian Diri
Motivasi sama dengan kebutuhan, perasaan, dan emosi merupakan kekuatan internal yang menyebabkan ketegangan dan ketidak seimbangan dalam organisme.       
2.      Sikap terhadap realitas dan Proses Penyesuaian Diri
Secara umum dapat dikatakan sikap yang sehat terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas sangat diperlukan bagi penyesuaian diri yang sehat.
3.      Pola Dasar Penyesuaian Diri
Dalam proses penyesuaian diri sehari-hari terdapat suatu pola dasar penyesuaian diri. Misalnya : seorang anak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya yang selalu sibuk. dalam situasi tersebut anak akan frustasi dan berusaha menemukan pemecahan yang berguna mengurangi ketegangan antara kebutuhan akan kasih sayang dengan frustasi yang dialami.

D.    Karakteristik penyesuaian diri remaja
Penyesuaian diri remaja memiliki karakteristik yang khas, yang dapat dilihat berbagai sisi, yaitu sebagai berikut :
1.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Peran dan Identitasnya
Tujuannya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas dan dapat dimengerti serta diterima oleh lingkumgannya, baik lingkungan keluarga,  sekolah, ataupun masyarakat.
2.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Pendidikan
Pada umumnya, para remaja berjuang untuk meraih kesuksesan dalam belajar, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan senang, terhindar dari tekanan dan konflik, atau bahkan frustasi.
3.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Kehidupan Seks
Secara keseluruhan, remaja ingin memahami kondisi seksual dirinya dan lawan jenisnyaserta mampu bertindak untuk menyalurkan dorongan seksualnya yang dapat dimengerti dan dapat dibenarkan oleh norma sosial dan agama.
4.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Norma Sosial
Penyesuaian diri remaja terhadap norma sosial mengarah pada dua dimensi, yaitu remaja ingin diakui keberadaannya dalam masyarakat dan remaja ingin bebas menciptakan aturan-aturan tersendiri yang lebih sesuai untuk kelompoknya, tetapi menuntut agar dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat dewasa.
5.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Waktu Luang
Dalam kontek ini upaya yang harus dilakukan oleh remaja adalah melakukan penyesuaian antara dorongan kebebasannya serta inisiatif dan kreativitasnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar dapat berguna bagi dirinya maupun orang lain.
6.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Uang
Remaja berusaha untuk mampu bertindak secara proporsional, melakukan penyesuaian antara kelayakan pemenuhan kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tuanya.
7.      Penyesuaian Diri remaja terhadap Kecemasan, Konflik, dan Frustasi
Menurut Signund Freud (Corey, 1989), strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah kecemasan, konflik, dan frustasi adalah menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti kompensasi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, identifikasi, regresi, dan fiksasi.

E.     Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian remaja
Menurut Schneiders (1984), setidaknya ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri remaja, yaitu :
1.      Kondisi Fisik
Aspek-aspek yang berkaitan dengan kondisi fisik serta dapat mempengaruhi penyesuaian diri remaja adalah (a) hereditas dan konstitusi fisik, (b) sistem uatama tubuh, dan (c) kesehatan fisik.
2.      Kepribadian
Unsur-unsur kepribadian yang penting pengaruhnya terhadap penyesuaian diri adalah (a) kemauan dan kemampuan untuk berubah, (b) pengaturan diri, (c) realisasi diri, dan (d) inteligensi.
3.      Proses Belajar
Unsur-unsur penting dalam Edukasi atau Pendidikan yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu adalah (a) belajar, (b) pengalaman, (c) latihan, dan (d) determinasi diri.
4.      Lingkungan
Faktor lingkungan sebagai variabel yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri sudah tentu meiputi lingkungan keluaraga, sekolah dan masyarakat.
5.      Agama serta Budaya
Faktor Agama memberikan sumbangan yang berarti dalam penyesuaian diri individu yaitu beupa nilai-nilai,  keyakinan, praktik-praktik, tujuan, serta kestabilan dan keseimbangan hidup individu. Selain Agama, Budaya juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap  kehidupan individu. Hal ini terlihat jika dilihat dari adanya karakteristik budaya yang diwariskan kepada individu melalui berbagai media dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Selain itu, tidak sedikit konflik pribadi, kecemasan, frustasi, serta berbagai perilaku neurotik atau penyimpangan perilaku yang disebabkan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh budaya sekitar.

F.     Dinamika penyesuaian diri remaja
Ada sejumlah faktor psikologis dasar yang memiliki pengaruh kuat terhadap dinamika penyesuaian diri, yaitu :
1.      Kebutuhan (Need)
Kebutuhan yang dimaksud merupakan kebutuhan yang bersifat internal. Dalam faktor ini, penyesuaian diri ditafsirkan sebagai suatu jenis respon yang diarahkan untuk memenuhi tuntutan yang harus diatasi oleh individu.
2.      Motivasi (Motivation)
Penafsiran terhadap karakter dan tujuan respons individu dan hubungannya dengan penyesuaian tergantung pada konsep-konsep yang menerangkan hakikat motivasi.
3.      Persepsi (Perception)
Tidak jarang persepsi dipahami sebagai suatu pencerminan yang sempurna tentang realitas. Pengertian persepsi menurut Atkinson dan Hilgard (1983) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses menginterpretasikan dan mengorganisasikan pola-pola stimulus yang berasal dari lingkungan.
4.      Kemampuan (Capacity)
Pengaruh perkembangan kemampuan remaja dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, juga dapat mewarnai dinamika penyesuaian diri.
a.       Kemampuan kognitif merupakan sarana dasar untuk pengambilan keputusan oleh remaja dalam melakukan penyesuaian diri.
b.      Kemampuan afeksi menjadi dasar pertimbangan bagi kognisi dalam proses penyesuaian diri remaja.
c.       Kemampuan psikomotorik menjadi sumber kekuatan yang mendorong remaja untuk melakukan penyesuaian diri disesuaiakan dengan dorongan dan kebutuhannya.
5.      Kepribadian (Personality)
Dalam hal ini remaja yang sudah mencapai tahapan berfikir operasional formal, sudah menyadari akan pentingnya nilai-nilai dan norma yang dapat dijadikan pegangan hidupnya, sudah mulai berkembang ketertarikan dengan lawan jenis, memiliki kohesivitas kelompok yang kuat, serta cenderung membangun budaya kelompoknya sendiri. Hal inilah yang akan memberikan warna tersendiri terhadap dinamika penyesuaian diri remaja.

G.    Implikasi proses penyesuain diri remaja bagi pendidikan
Perkembangan penyesuaian diri remaja yang ditandai dengan dinamika yang sangat tinggi, membawa implikasi imperatif akan pentingnya intervensi pendidikan yang dilakukan secara sistematis, serius, dan terprogram guna membantu proses perkembangannya agar berkembang kearah yang lebih baik. Intervensi edukatif yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
1.      Dalam kehidupan keluarga hendaknya diciptakan interaksi edukatif yang memberikan perasaan aman bagi remaja untuk memerankan dirinya ikut ambil bagian dalam  berbagai kegiatan keluarganya.
2.      Orang tua hendaknya jangan menimbulkan stimulus yang dapat mengembangkan identifikasi negatif pada remaja karena sesungguhnya orang tua harus dapat dijadikan model bagi remaja dalam segala tingkah lakunya.
3.      Hindarkan perkembangan identifikasi meyilang pada remaja.
4.      Perlu menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif dan didalamnya menuntut kemampuan remaja untuk melakukan interaksi, proses sosialisasi, dan penyesuaian diri terhadap diri sendiri, kegiatan yang diikuti, maupun orang lain yang sama-sama ikut aktif dalam proses kegiatan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar