Senin, 02 Juli 2012

KARYAKU


PENANTIAN

Oh Tuhan. . .
            Kenapa jantungku berdenyut kencang
            Kenapa hatiku resah dan gelisah
Waktupun terasa lama
Saat kunanti kehadirannya
Sering kali kulihat putraran jam
Sering kali kutarik nafas
Rasanya makan nggak enak
Tidurpun nggak nyenyak
            Sudah lama kunantikan
            Kehadiran adik dalam hidupku
Aku hanya bisa berharap
Sebuah penantian yang tak kunjung datang
By; Desi Mayasari

BIMBINGAN KELOMPOK


1.      Perbedaan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok      
ð  Bimbingan kelompok
·         Fasilitator : Guru, Konselor, Petugas  pemberi bantuan yang professional,
·         Untuk semua individu atau siswa sekolah dan terjadwal dengan teratur,
·         Usaha tidak langsung untuk mengubah tindakan dan tingkah laku dengan memberi informasi dan menekankan fungsi kognitif,
·         Diterapkan untuk kelompok seukuran kelas,
·         Jumlah  anggota dapat bervariasi, ideal 6 orang  meskipun biasanya berkisar antara 4 – 8 orang,
·         Metode yang digunakan: Informatif, Presentasi, Ceramah atau diskusi.
ð  Konseling Kelompok
·         Fasilitator: Konselor atau Psikolog dengan latihan khusus bekerja dengan kelompok,
·         Hanya untuk mereka yang mempunyai masalah,
·         Topik atau masalah bersifat pribadi yaitu masalah  pribadi yang secara langsung dialami oleh anggota kelompok,
·         Memberi usaha langsung untuk memodifikasikan tindakan atau perilaku dengan menekankan keterlibatan yang bersifat afektif,
·         Diterapkan pada kelompok-kelompok kecil, yaitu  3-4 siswa,
·         Metode yang digunakan: Berpusat pada proses kelompok dan  perasaan anggotanya,
·         Konseling kelompok dapat dilakukan dimana saja: ruangan atau diluar ruangan , disekolah atau diluar sekolah.

2.      Tahapan Konseling Kelompok
            Kegiatan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok pada tahapan konseling kelompok adalah sebagai berikut :
a.      Tahap Persiapan
-          Menampilkan diri secara utuh dan terbuka;
-          Menampilkan penghormatan kepada orang lain, haangat, tulus, bersedia membantu dan penuh;
-          Sebagai contoh;
-          Menjelaskan tentang tujuan kegiatan;
-          Penumbuhan rasa saling mengenal antar anggota;
-          Penumbuhan sikap saling mempercayai dan menerima;
-          Dimulainya pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan dalam kelompok.
b.      Tahap Peralihan
-          Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka;
-          Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifatlangsung atau mengambil alih kekuasaannya;
-          Mendorong dibahasnya suasana perasaan;
-          Membuka diri, sebagai contoh, dan penuh empati.
c.       Tahap Kegiatan
-          Sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka;
-          Aktif tetapi tidak banyak bicara;
-          Memberikan dorongan dan penguatan serta penuh empati.
d.      Tahap Pengakhiran
-          Tetap mengusahakan suasana hangat, bebas, dan terbuka;
-          Memberikan pernyataan dan mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggota;
-          Memberikan semangat untuk kegiatan selanjutnya;
-          Penuh rasa persahabatan dan empati.

3.      Sikap-sikap pemimpin kelompok pada KKP dan BKP
1.      Kehendak mempelajari dan usaha untuk mengenal dan mempelajari dinamika kelompok, fungsi-fungsi konselor, dan hubungan yang baik antar orang-orang didalam suatu kelompok;
2.      Kesediaan menerima orang lain, yaitu orang-orang yang menjadi anggota kelompok, tanpa pamrih pribadi;
3.      Kehendak untuk dapat didekati dan membantu tumbuhnya hubungan yang baik antar anggota kelompok;
4.      Kesediaan menerima berbagai pandangan dan sikap yang berbeda, yang barangkali sangat berlawanan dengan pandangan pemimpin kelompok (konselor);
5.      Pemusatan perhatian terhadap suasana perasaan dan sikap seluruh anggota kelompok dan konselor sendiri;
6.      Penimbulan dan pemeliharaan hubungan yang baik antar anggota kelompok;
7.      Pengarahan yang teguh demi tercapainya tujuan bersama yang telah ditetapkan;
8.      Keyakinan akan kemanfaatan proses dinamika kelompok sebagai wahana untuk membantu para anggota;
9.      Rasa humor, bahagia, dan rasa puas; baik yang dialami konselor sendiri maupun orang lain.